Saat Perhatian Menyapa: Yantie dan Senyum Anak-Anak SDN Perwira

By Admin

Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim

nusakini.com, Pagi itu, halaman SDN Perwira tidak hanya dipenuhi suara langkah kaki kecil yang berlatih menari. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang pelan-pelan merambat, menghangatkan suasana, seolah seseorang sedang membawa perhatian yang tidak dibuat-buat.

Ketika Yantie Rachim melangkah masuk, ia tidak tampak tergesa. Ia menyapa, menunduk sedikit, mendekat. Bukan sekadar datang sebagai Ketua TP PKK Kota Bogor, melainkan seperti seseorang yang ingin benar-benar melihat: wajah anak-anak itu, mata mereka, bahkan mungkin kegugupan yang mereka sembunyikan.

Di barisan depan, beberapa siswa berdiri dengan tangan yang saling menggenggam. Saat Yantie mendekat, raut mereka berubah—dari canggung menjadi lebih berani. Ada yang tersenyum malu, ada pula yang tiba-tiba tegak, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka siap dilihat.

Tarian Tortor pun dimulai. Gerakannya sederhana, kadang belum selaras. Namun Yantie memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ia tidak sekadar menyaksikan, tetapi seperti ikut merasakan setiap langkah kecil itu. Sesekali ia tersenyum lebar, memberi tepuk tangan yang tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat anak-anak itu tahu: mereka dihargai.

Di tengah suasana itu, bingkisan dibagikan. Tetapi yang terasa bukan hanya benda yang berpindah tangan. Ada cara Yantie menyerahkannya—tidak terburu-buru, tidak sekadar formalitas. Ia menyapa anak satu per satu, menatap mereka, seolah ingin mengatakan tanpa kata-kata: kamu penting.

Bingkisan itu, yang berasal dari program pengumpulan minyak jelantah, tiba-tiba memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya hasil dari sesuatu yang dikumpulkan, tetapi juga bentuk kepedulian yang dirangkai dari banyak tangan—dan hari itu, disampaikan dengan penuh rasa.

Yantie sempat mengajak para guru dan orang tua untuk ikut berpartisipasi. Nada bicaranya tidak menggurui. Lebih seperti ajakan yang lahir dari kesadaran bersama: bahwa hal kecil di rumah bisa berdampak besar bagi lingkungan dan bagi orang lain.

Barangkali itulah yang membuat suasana berubah. Bukan karena ada pejabat yang datang, tetapi karena ada empati yang terasa nyata.

Kepala sekolah menyebut kunjungan itu sebagai penyemangat. Namun semangat itu tampaknya tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari pertemuan yang sederhana—antara seseorang yang mau hadir sepenuhnya, dan anak-anak yang membutuhkan pengakuan bahwa mereka dilihat.

Di sudut halaman, siswa berkebutuhan khusus ikut tampil. Gerak mereka tidak selalu sama, tetapi Yantie tetap memperhatikan dengan cara yang sama hangatnya. Tidak ada perbedaan dalam cara ia memberi perhatian. Di sana, martabat setiap anak dijaga dengan tenang.

Dalam momen seperti itu, kita belajar bahwa kepedulian tidak selalu harus besar dan megah. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat manusiawi: mendengarkan, menatap, menunggu, dan tidak terburu-buru pergi.

Dan di halaman sekolah itu, Yantie Rachim menunjukkan sesuatu yang sederhana, tetapi jarang: bahwa menjadi hadir sepenuhnya—di tengah anak-anak yang sedang tumbuh—adalah bentuk empati yang paling jujur.

Mungkin anak-anak itu tidak akan mengingat semua kata yang diucapkan hari itu. Tetapi mereka akan mengingat perasaan yang ditinggalkan: bahwa pernah ada seseorang yang datang, melihat mereka dengan sungguh-sungguh, dan membuat mereka merasa lebih berani untuk menjadi diri sendiri. (*)